10 Ekspresi dalam Bahasa Jerman tentang Pernikahan yang Perlu Kamu Tahu

Bahasa adalah cerminan budaya. Dari cara suatu bangsa berbicara, kita bisa memahami bagaimana mereka memandang kehidupan, cinta, dan bahkan pernikahan. Di Jerman, pernikahan bukan hanya sekadar acara formal antara dua orang, melainkan juga simbol kematangan, komitmen, dan perayaan sosial yang penuh makna. Tidak heran, dalam percakapan sehari-hari, banyak sekali ungkapan atau idiom dalam bahasa Jerman yang berkaitan dengan pernikahan dan hubungan.

Kalau kamu sedang belajar bahasa Jerman, memahami ekspresi-ekspresi ini bisa jadi cara seru untuk meningkatkan kemampuanmu, sekaligus memahami budaya masyarakat Jerman yang dikenal disiplin namun romantis dengan caranya sendiri. Yuk, kita bahas satu per satu!

  • “Er hat den Bund fürs Leben geschlossen”

Terjemahan harfiah: Ia telah menutup ikatan untuk seumur hidup.
Makna: Ia telah menikah.Dalam budaya Jerman, pernikahan sering dianggap sebagai “ikatan untuk hidup” atau Bund fürs Leben. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang baru saja menikah atau mengambil langkah besar dalam hidupnya.

  • “Unter die Haube kommen”

Terjemahan harfiah: Masuk ke bawah tudung.
Makna: Seorang perempuan yang menikah. Ungkapan ini berasal dari tradisi lama Jerman, di mana pengantin perempuan mengenakan tudung atau penutup kepala (Haube) sebagai simbol bahwa dia kini telah menjadi istri. Kini, ungkapan ini sering digunakan secara santai, misalnya:
➡️ „Sie ist endlich unter die Haube gekommen!“
(“Akhirnya dia menikah juga!”)

  • “In den Hafen der Ehe einlaufen”

Terjemahan harfiah: Berlayar ke pelabuhan pernikahan.
Makna: Menikah. Jerman punya banyak idiom dengan metafora laut. Pernikahan dianggap seperti kapal yang berlayar melewati ombak kehidupan dan akhirnya “berlabuh” di pelabuhan yang tenang — yaitu kehidupan rumah tangga.

  • “Die Flitterwochen genießen”

Terjemahan harfiah: Menikmati bulan madu.
Makna: Waktu bahagia setelah menikah.Flitterwochen berarti honeymoon. Secara harfiah, “minggu-minggu penuh kilauan,” menggambarkan masa indah yang dialami pasangan baru sebelum menghadapi rutinitas rumah tangga yang sebenarnya.

  • “Der schönste Tag im Leben”

Terjemahan harfiah: Hari terindah dalam hidup.
Makna: Hari pernikahan.

Ungkapan ini sering muncul dalam pidato, undangan, atau ucapan selamat pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai salah satu momen paling berharga dan membahagiakan dalam hidup seseorang.

  • “Alte Liebe rostet nicht”

Terjemahan harfiah: Cinta lama tidak berkarat.
Makna: Cinta sejati tidak akan pudar. Pepatah klasik ini sering digunakan untuk menggambarkan pasangan yang sudah lama menikah namun tetap mesra. Kata rostet (berkarat) digunakan secara metaforis untuk menandakan bahwa cinta sejati akan tetap kuat meskipun waktu berlalu.

  • “Die Ehe ist kein Ponyhof”

Terjemahan harfiah: Pernikahan bukan taman kuda poni.
Makna: Pernikahan tidak selalu menyenangkan. Ekspresi ini adalah variasi dari pepatah populer “Das Leben ist kein Ponyhof” (Hidup bukan taman kuda poni). Artinya, pernikahan tidak selalu indah dan butuh kerja keras serta kompromi dari kedua belah pihak.

  • “Mit jemandem durch dick und dünn gehen”

Terjemahan harfiah: Melalui masa sulit dan mudah bersama seseorang.
Makna: Tetap setia dalam suka dan duka.

Ungkapan ini sering digunakan dalam konteks hubungan romantis maupun persahabatan. Dalam konteks pernikahan, artinya adalah selalu bersama pasangan dalam segala kondisi, baik dalam kebahagiaan maupun kesulitan.

  • “Jemandem das Jawort geben”

Terjemahan harfiah: Memberikan kata “ya” kepada seseorang.
Makna: Menyetujui untuk menikah. Ini adalah ekspresi formal yang sering digunakan saat membicarakan upacara pernikahan. Di Jerman, janji pernikahan disebut Jawort (“kata ya”). Jadi, ketika seseorang gibt das Jawort, berarti ia secara resmi berkata “ya” di depan penghulu atau pejabat catatan sipil.

  • “Bis dass der Tod uns scheidet”

Terjemahan harfiah: Sampai maut memisahkan kita.
Makna: Janji pernikahan yang abadi.

Ungkapan ini sangat populer dan sering diucapkan dalam upacara pernikahan di gereja di Jerman. Kalimat ini berasal dari liturgi Kristen dan menandakan kesetiaan yang tak tergoyahkan hingga akhir hayat.

Dari ekspresi-ekspresi di atas, kita bisa melihat bahwa masyarakat Jerman memandang pernikahan bukan hanya sebagai kontrak sosial, tapi juga perjalanan spiritual dan emosional. Bahasa mereka memuat banyak metafora — mulai dari lautan, api, hingga logam — yang menggambarkan kompleksitas cinta dan komitmen.

Memahami idiom-idiom seperti ini tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga membantu kamu memahami nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat penutur bahasa Jerman.

Mau Belajar Bahasa Jerman Lebih Dalam?

Pahami lebih banyak ekspresi budaya seperti ini lewat kelas General German di Sastra Lingua Indonesia!
Kamu bisa belajar dari dasar, memperluas kosakata, dan berlatih percakapan dengan cara yang interaktif dan menyenangkan! Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi HOTLINE SLI di nomor Whatsapp berikut: https://wa.me/6281217940525