Inspirasi datang berbagai media, dari website, social media, video, podcast, atau bahkan dari cerita teman ke teman. Kalau Saling Friends berkunjung ke website Sastra Lingua Indonesia, bersyukurlah! Kamu akan mendapatkan inspirasi studi ke luar negeri. Mungkin, mimpimu bisa terwujud tahun ini atau tahun depan. Siapa yang akan menyangka? Yang paling penting, kamu perlu dapatkan inspirasi dari sumber yang tepat dan di sana kamu akan mendapatkan cara mewujudkan mimpimu ke luar negeri. Pada wawancara kali ini, Sastra Lingua Indonesia mengundang Nanak Hikmatullah, salah satu penerima beasiswa Chevening dan Fulbright, untuk berbagi inspirasi seputar perjalanannya mendapatkan beasiswa full dari negera Inggris dan Amerika Serikat. Yuk, simak rangkuman wawancaranya!



Halo, kak Nanak. Sebelum kita ke pertanyaan inti, boleh perkenalan diri dulu?
Halo, perkenalkan, nama saya Nanak Hikmatullah. Saat ini saya berafiliasi dengan Edgar Brood Academic Chair (EBAC), sebuah non-profit organisation yang berasal dari Belgia dan Belanda. Saya telah mengabdikan diri sebagai dosen dan instruktur bahasa Inggris selama lebih dari 12 tahun. Dunia pendidikan bukan hanya profesi bagi saya, tetapi juga ruang untuk terus belajar, bertumbuh, dan membantu orang lain menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.
Apa yang pertama kali memotivasi kak Nanak untuk melanjutkan studi di luar negeri?
Jika melihat ke belakang, perjalanan saya untuk bisa belajar hingga ke luar negeri bukanlah sesuatu yang sudah tergambar jelas sejak awal. Saya berasal dari keluarga yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Namun, ada satu hal yang selalu ditanamkan sejak kecil: sekolah adalah prioritas.
Bagi saya, pendidikan adalah jalan untuk membuka lebih banyak kemungkinan dalam hidup. Seiring waktu, muncul keinginan untuk terus mendorong batas kemampuan diri. Saya selalu tertarik mencoba sesuatu yang terlihat sulit dan bahkan terasa mustahil untuk diraih.
Melanjutkan studi ke luar negeri menjadi salah satu bentuk manifestasi dari keinginan tersebut. Saya ingin melihat dunia secara langsung, bukan hanya melalui online atau cerita orang lain. Saya ingin memahami berbagai perspektif, budaya, dan cara berpikir yang berbeda. Pengalaman itu tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga memperkaya cara saya memandang kehidupan.
Bagaimana proses seleksi yang dilalui dan tantangan apa yang dihadapi, Kak?
Banyak orang melihat beasiswa sebagai hasil akhir, padahal di baliknya ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Saya sudah beberapa kali mengikuti seleksi beasiswa, dan setiap proses selalu menghadirkan tantangan yang berbeda.
Seleksi beasiswa membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang tidak sedikit. Ada banyak dokumen yang harus disiapkan, berbagai tahapan yang harus dilalui, serta ketidakpastian yang harus dihadapi.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya belajar untuk menikmati proses tersebut. Bagi saya, proses seleksi bukan sekadar tentang diterima atau tidak diterima. Di dalamnya ada ruang refleksi yang sangat berharga. Kita dipaksa untuk mengenali diri sendiri lebih dalam, memahami tujuan hidup, menyusun visi masa depan, dan menjawab pertanyaan penting: mengapa kita ingin melanjutkan studi?
Salah satu pengalaman yang paling menantang adalah ketika mengikuti seleksi Beasiswa Fulbright untuk program doktoral (PhD) di tengah masa pandemi COVID-19. Situasi yang penuh ketidakpastian membuat proses seleksi terasa lebih kompleks. Namun justru dari situ saya belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi.
Bagaimana kak Nanak mempersiapkan diri (bahasa, dokumen, mental, finansial) sebelum berangkat?
Banyak orang mengira persiapan studi ke luar negeri dimulai beberapa bulan sebelum keberangkatan. Padahal, bagi saya, persiapan tersebut dibangun jauh sebelumnya.
Karena sudah beberapa kali mengikuti seleksi beasiswa, saya mulai memahami alur dan dokumen apa saja yang perlu dipersiapkan. Saya juga berusaha menjaga hubungan baik dengan dosen-dosen saat kuliah S1 dan S2, serta rekan-rekan di lingkungan kerja. Hubungan yang baik ini ternyata sangat membantu ketika membutuhkan rekomendasi akademik maupun profesional.
Dari sisi mental, saya mencoba menanamkan prinsip sederhana: nothing to lose. Saya memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan, tetapi juga belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana.
Saya percaya bahwa jika suatu kesempatan belum datang, bukan berarti kita tidak layak mendapatkannya. Mungkin memang belum waktunya. Pola pikir ini membantu saya tetap tenang dan terus melangkah meskipun menghadapi penolakan atau kegagalan.
Dari pengalaman kak Nanak, apakah ada persyaratan menulis esai untuk mendaftar beasiswa?
Hampir semua program beasiswa yang pernah saya lamar mensyaratkan personal statement dan esai. Dalam aplikasi Fulbright PhD, saya berusaha membangun tulisan berdasarkan tiga elemen penting: ethos, pathos, dan logos.
Saya tidak mencoba menulis cerita yang terdengar luar biasa atau heroik. Sebaliknya, saya memilih membagikan pengalaman yang benar-benar saya alami. Saya menulis tentang apa yang saya lihat, apa yang menurut saya masih kurang di lingkungan sekitar, dan bagaimana saya ingin berkontribusi untuk mengisi kekosongan tersebut.
Kontribusi yang ingin diberikan tidak harus selalu besar atau spektakuler. Kadang perubahan bermula dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Kejujuran dan kedekatan dengan pengalaman pribadi itulah yang saya yakini membuat sebuah esai menjadi lebih hidup dan bermakna. Contoh saya adalah menulis apa yang saya alami di ruang kelas dan kontribusi apa yang bisa saya bangun untuk memperbaiki ruang kelas sebagai tempat siswa tumbuh, sebuah ide yang selalu aku bawa dalam gerakan saya #HumanizingEducation.
Selain personal statement, apakah kak Nanak juga diminta menulis esai lain? Misalnya supplemental essays atau motivation letter?
Selain personal statement, saya juga menulis study objective yang menjelaskan secara jelas mengenai rencana studi, bidang yang ingin saya dalami, serta bagaimana ilmu tersebut akan saya manfaatkan ketika kembali ke Indonesia.
Menurut kak Nanak, apa saja kunci sukses untuk bisa melanjutkan studi di luar negeri?
Jika ditanya apa kunci utama untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri, saya selalu kembali pada tiga hal sederhana (3D):
- Dream. Miliki mimpi yang jelas. Mimpi adalah titik awal dari setiap perjalanan besar.
- Determination. Miliki tekad untuk terus berjalan meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan.
- Dedication. Berkomitmen untuk terus belajar dan mempersiapkan diri secara konsisten.
Ketiga hal tersebut saling melengkapi. Mimpi tanpa tindakan akan tetap menjadi mimpi, sementara tindakan tanpa arah akan kehilangan makna.
Seberapa besar peran kemampuan bahasa asing dalam proses seleksi beasiswa studi ke luar negeri?
Kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, memiliki peran yang sangat penting dalam proses seleksi studi ke luar negeri. Hampir semua program beasiswa ke negara berbahasa Inggris mensyaratkan skor kemampuan bahasa tertentu.
Namun, lebih dari sekadar memenuhi persyaratan administrasi, kemampuan bahasa adalah alat untuk berkomunikasi, membangun jejaring, dan menyerap ilmu secara maksimal selama masa studi.
Karena itu, kemampuan bahasa sebaiknya dibangun sejak dini dan dilatih secara berkelanjutan. Sastra Lingua Indonesia bisa menjadi tempat teman-teman tumbuh dengan baik bersama bahasa Inggris. Go check out their programmes!
Jika bisa memberi satu tips utama bagi mahasiswa Indonesia yang ingin studi ke luar negeri, apa yang akan ingin Kak Nanak bagikan?
Jika saya hanya boleh memberikan satu pesan bagi mahasiswa Indonesia yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri, maka pesannya adalah:
Anggaplah hidup sebagai proses membangun portofolio.
Setiap pengalaman, prestasi, organisasi, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga kemampuan bahasa yang kita miliki adalah bagian dari portofolio tersebut. Mulailah membangunnya sejak sekarang dan dokumentasikan setiap pencapaian yang diraih.
Jangan menunggu semester akhir atau saat pengumuman beasiswa dibuka. Persiapan terbaik adalah persiapan yang dilakukan jauh sebelum kesempatan itu datang.
Karena pada akhirnya, studi ke luar negeri bukanlah hasil dari satu langkah besar yang dilakukan secara tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari banyak langkah kecil yang dikerjakan dengan konsisten selama bertahun-tahun.
Dan ketika kesempatan itu akhirnya datang, kita akan menyadari bahwa semua proses, usaha, dan penantian yang pernah dilalui ternyata tidak pernah sia-sia.


Saling Friends, bagaimana informasi dari wawancara di atas? Inspiratif sekali, bukan? Kami, Sastra Lingua Indonesia, tidak hanya ingin memberikan cerita inspiratif, tapi juga jalan agar mimpimu menjadi kenyataan. Kamu yang awalnya buntu dimana mengurus penerjemahan tersumpah dokumen akademik seperti ijazah dan transkrip sekarang sudah kenal Sastra Lingua Indonesia-satu-satunya tempat penerjemah tersumpah terpercaya dan diakui oleh Pemerintah RI. Tidak hanya layanan penerjemah tersumpah yang kami sediakan, kelas persiapan khusus IELTS dan TOEFL juga menjadi menu utama dalam mempersiapkan diri kuliah ke luar negeri. Atau nih, buat kamu yang mau latihan speaking saja, bisa lho daftar program Speaking Boost-nya Sastra Lingua Indonesia. Bagi kamu yang mencari jasa review/proofreading esai beasiswa, Sastra Lingua Indonesia adalah tempat yang tepat! Daripada galau mikirin bagaimana cara menyiapkan berkas, yuk segera pesan layanan legalisir kementrian hingga kedutaan di Sastra Lingua Indonesia. Good luck, Saling Friends!

