I Wanna See the World (Wawancara Eksklusif dengan Penerima Australia-Indonesia Youth Exchange Program/AIYEP)

Halo Saling Friends, kali ini Sastra Lingua Indonesia punya kesempatan mewawancarai salah satu kandidat Pertukaran Pelajar Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) Tahun 2025. Seorang perempuan dari Provinsi Banten ini menceritakan sedikit banyak tentang perjalanannya meraih kesempatan emas tersebut. Ingin tahu bagaimana kisah sukses Elsa Balqis Shafira dalam seleksi AIYEP 2025? Yuk simak cerita selengkapnya di rangkuman wawancara berikut ini.

Halo kak Elsa! Kak Elsa, boleh perkenalan diri dulu ya. Kemarin gimana nih pengalamannya mengikuti AIYEP, Kak?

Hi everyone! Perkenalkan, namaku Elsa Balqis Shafira, alumni Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta dengan spesialisasi Islamic Law. Pada akhir tahun 2025, alhamdulillah aku terpilih sebagai delegasi Indonesia mewakili Provinsi Banten dalam program Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Department of Foreign Affairs and Trade Australia. Program ini berlangsung selama lima bulan, terdiri dari fase online dan offline di Australia serta Indonesia.

Selama Australian Phase yang berlokasi di Melbourne, aku mendapatkan professional placement di Australian Muslim Women’s Centre for Human Rights (AMWCHR). Di sana, aku berkesempatan terlibat langsung dengan komunitas Muslim multikultural di Melbourne, termasuk komunitas African, Palestinian, Pakistani, Syrian, dan Middle Eastern lainnya.

Kegiatan yang aku lakukan selama work placement meliputi observasi, diskusi komunitas berbahasa Inggris dan Arab di community centre dan sekolah, menyusun analytical observation reports terkait community engagement, serta mendukung pengembangan data dan insight mengenai gender, Islamophobia, dan family well-being untuk kebutuhan riset dan inisiatif sosial berbasis komunitas.

Kami juga memperkenalkan budaya Indonesia melalui tarian, seperti misalnya tari saman dari Aceh, medley lagu dan medley budaya hasil kompilasi beberapa pilihan lagu daerah serta tarian dari berbagai provinsi di Indonesia. Kami menampilkan persembahan ini di berbagai courtesy call, seperti di konsulat jendral di Sydney dan Melbourne, di sekolah-sekolah, misalnya Claremont College School di New South Wales, serta pada event ‘Indonesian Festival’ di University of Melbourne.

Apa yang pertama kali memotivasi Kak Elsa untuk mengikuti kegiatan di level internasional?

Dari dulu, sejak masih sekolah dasar, aku memang suka banget belajar tentang kebudayaan, ras, agama, sampai bahasa lain. Aku selalu merasa penasaran tiap kali lihat orang-orang dari tempat yang berbeda bisa punya cara hidup dan cara pandang yang juga beda banget. Dari situ, pelan-pelan muncul satu keinginan sederhana dalam diri aku: “I wanna see the world.”

Tapi makin ke sini, aku sadar keinginan itu bukan cuma soal jalan-jalan atau lihat tempat baru. Aku pengen benar-benar ngerti dunia lewat pengalaman langsung, seperti ketemu orang-orang dengan background yang beda-beda, denger cerita mereka, dan ngerasain sendiri gimana hidup dari sudut pandang yang mungkin nggak pernah aku bayangin sebelumnya.

Terakhir, buat aku pribadi, pengalaman internasional itu bukan sekadar soal networking atau pergi ke luar negeri. Lebih dari itu, ini soal proses jadi manusia yang pelan-pelan belajar buat lebih terbuka, lebih ngerti kenapa orang bisa berpikir berbeda, dan lebih hati-hati juga dalam menilai sesuatu. Dari situ aku juga belajar kalau setiap orang itu punya cerita masing-masing, dan kadang dari cerita itu kita justru belajar hal-hal yang paling penting tentang hidup.

Bagaimana proses seleksi AIYEP, Kak? Apa ada tantangan yang dihadapi selama seleksi?

Program ini adalah program dari pemerintah, dengan proses seleksi berjenjang. Dimulai dari tingkat kabupaten/kota, lalu lima peserta terbaik dari setiap kabupaten dan kota di Provinsi Banten dikirim ke seleksi tingkat provinsi. Setelah itu, dipilih lagi lima peserta terbaik dari provinsi untuk melanjutkan ke seleksi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh KEMENPORA RI. Dari proses akhir ini, hanya satu orang yang akhirnya terpilih untuk mewakili provinsinya dalam program youth exchange ini. Seluruh rangkaian prosesnya berlangsung kurang lebih empat bulan sampai SK delegasi resmi ditetapkan oleh KEMENPORA. Dalam proses seleksi, ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari wawasan kebangsaan seperti nasionalisme dan jiwa patriotisme, kemampuan bahasa Inggris, community development, pengetahuan tentang daerah (sejarah, adat, budaya, hingga kesenian), serta tes psikologi.

Jujur, tantangannya cukup banyak. Terlebih, saat itu aku juga sedang berada di fase finalisasi tugas akhir/skripsi, mengajar les privat, dan aktif di kegiatan organisasi. Jadi benar-benar cukup struggle untuk menyeimbangkan semuanya sambil mempersiapkan program ini. Aku belajar untuk mengatur waktu sebaik mungkin agar semua tanggung jawab tetap bisa berjalan. Dan kalau ditanya apa yang paling “terkorbankan”, mungkin waktu tidur. Tapi waktu itu aku punya prinsip sederhana: “Tidur masih bisa besok atau di hari lain, tapi kesempatan belajar dan pengalaman ke luar negeri belum tentu datang dua kali.”

Bagaimana kak Elsa mempersiapkan diri mulai dari persiapan bahasa, dokumen, mental, dan finansial sebelum mendaftar AIYEP?

Untuk bahasa, sebenarnya dari kecil aku sudah cukup familiar dan sangat suka dengan bahasa asing. Waktu sekolah, aku ikut les bahasa Inggris, ikut lomba debat, baca puisi, sampai public speaking. Tapi lama-lama aku sadar, ini bukan cuma soal skill atau competition, tapi lebih ke rasa “hidup” setiap kali aku belajar bahasa baru, seperti ada world perspective yang pelan-pelan kebuka. Ketika SMA, aku juga sekolah di boarding school yang mewajibkan penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Di situ aku belajar kalau bahasa bukan sekadar subject, tapi as a tool yang harus dijadikan habit yang membentuk cara kita berpikir, cara kita merespon, dan cara kita connect dengan orang lain. Di bangku kuliah, meskipun aku berada di fakultas yang full Arabic language, aku tetap mencari ruang di luar kelas untuk keep practicing English, lewat organisasi, discussion, dan berbagai aktivitas. Jadi buat aku, ini bukan tentang choosing one over another, tapi bagaimana menjaga kedua bahasa itu tetap hidup dan berkembang.

Untuk persiapan, aku mulai dari hal-hal kecil tapi konsisten, terutama administrasi dan documents yang aku cicil dari tahap seleksi daerah sampai nasional supaya tidak menumpuk di akhir. Untuk mental preparation, selama online phase kami sudah mendapat bekal training tentang Australian culture, jadi pelan-pelan aku mulai punya real picture tentang apa yang akan dihadapi nanti. Soal emotional regulation, aku tipe yang lebih suka calm dan grounded. Jadi ketika kepala sudah terlalu penuh atau sedang berada di pressure deadline, aku biasanya journaling, menulis apa yang ada di kepala supaya lebih clear dan tidak menumpuk. Pengalaman di boarding school juga sangat membantu, karena tinggal dengan orang-orang dari berbagai daerah membuat aku lebih terbiasa dengan different communication styles, perspectives, dan cara orang memahami sesuatu. Dari situ aku belajar untuk jadi pribadi lebih adaptif dan open-minded. Dan terkait financial aspect, program ini fully funded, jadi seluruh kebutuhan dari awal sampai akhir, bahkan visa sudah ditanggung oleh pihak penyelenggara. Dan untuk medical check-up, hingga administrasi lainnya ketika pre-departure juga bisa dikomunikasikan dengan local government baik dari kabupaten/kota, atau provinsi untuk proses pendampingannya.

Apakah ada persyaratan untuk menulis essay/personal statement? Jika iya, apa topik utama atau cerita pribadi yang kak Elsa angkat dalam essay/personal statement tersebut? Dan kenapa memilih topik itu?

Iya, ada. Proses penulisan esai ini merupakan tahap akhir sebelum kami mengikuti wawancara di tingkat nasional. Esai seleksi nasional ini terdiri dari tiga pertanyaan, dengan tema utama seputar soft diplomacy, motivasi, dan kontribusi personal. Dalam esai tersebut, aku memilih untuk menyoroti ketertarikan aku pada education, research, dan cultural understanding. Ini berangkat dari refleksiku yang divalidasi oleh data, bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar di bidang riset. Berdasarkan beberapa data, jumlah peneliti di Indonesia masih sekitar 550 peneliti per satu juta penduduk dengan pengeluaran riset sekitar 0,31% dari GDP, jauh di bawah Australia yang mencapai sekitar 1,79%. Gap ini membuat aku semakin penasaran bagaimana sistem pendidikan dan ekosistem riset di Australia bisa berkembang lebih kuat dan terstruktur.

Dalam esai, aku juga mengungkapkan bahwa, kalau aku terpilih sebagai AIYEP delegate, aku ingin benar-benar belajar dari academic culture di Australia, terutama bagaimana institusi seperti University of Melbourne atau Monash University mengelola education system, mendorong research culture, dan membangun reputasi global mereka. Aku juga banyak terinspirasi dari Professor Nadirsyah Hosen, seorang Indonesian Islamic scholar yang mengajar di University of Melbourne, terutama bagaimana beliau bisa mengembangkan Islamic values dalam konteks minoritas di dunia Barat. Hal ini membuat aku ingin memahami lebih dalam bagaimana nilai-nilai Islam bisa tetap hidup dan relevan dalam konteks global yang berbeda. Selain itu, aku juga ingin berkontribusi lewat people-to-people connection, misalnya dengan menginisiasi diskusi tentang isu-isu keislaman kontemporer bersama komunitas Muslim di Australia. Dari sisi cultural exchange, aku juga sangat menantikan untuk sharing tentang kekayaan budaya Indonesia sekaligus belajar langsung dari Australian values and way of life.

Alhamdulillah, finally selama program kami mendapatkan banyak exposure ke berbagai universitas dan institusi di Australia, yang semakin memperkaya perspektif aku tentang dunia akademik dan research culture di sana. Aku juga mendapatkan work placement yang sangat sesuai dengan ekspektasi dan minat aku, sehingga pengalaman ini terasa benar-benar relevan dan meaningful dalam perjalanan belajar aku.

Selain personal statement, apakah Kak Elsa juga diminta menulis esai lain? Misalnya supplemental essays atau motivation letter?

Iya, kami diminta menulis motivation letter yang digabung dengan tiga pertanyaan esai lainnya. Jadi dalam satu dokumen, kami tidak hanya menjelaskan motivasi, tapi juga refleksi pengalaman, rencana kontribusi, serta perspektif pribadi terkait program yang diikuti. Salah satu bagian yang aku tulis di motivation letter tersebut berangkat dari pengalaman aku dalam community development. Salah satu proyek yang paling bermakna adalah penulisan buku berjudul Peace and Justice yang terbit pada akhir tahun 2024. Saat itu aku menjabat sebagai Project Officer di Global Intellectual Talks, sebuah divisi di bawah International Studies Club yang rutin mengadakan diskusi mingguan dan bulanan tentang isu-isu internasional bagi anak muda.

Setelah beberapa bulan terlibat dalam berbagai diskusi yang cukup reflektif, aku sempat berpikir sederhana: bagaimana kalau semua hasil diskusi ini tidak hanya berhenti sebagai percakapan, tapi diubah menjadi sesuatu yang lebih “abadi”? Sesuatu yang bisa dibaca ulang, dibagikan, dan memberi ruang bagi suara anak muda untuk didengar lebih luas. Karena menurut aku, setiap orang punya gagasan yang layak untuk dituliskan. Dari situ aku menginisiasi ide untuk menjadikan hasil diskusi kami sebuah buku. Aku mengadakan writing workshop dan sesi diskusi dengan hampir 100 peserta setiap pertemuan. Aku juga terlibat sebagai editor, membantu para penulis mengembangkan ide mereka, serta mengurus koordinasi dengan pihak penerbit sampai akhirnya buku ini berhasil terbit dengan ISBN. Buku tersebut diterbitkan dalam bentuk cetak dan digital, dengan lebih dari 30 eksemplar terjual dan 890+ views secara online. Semua kontributor juga mendapatkan sertifikat dan tercatat sebagai co-author.

Menurut Kak Elsa, apa saja kunci sukses untuk bisa berpartisipasi dalam program internasional?

Menurut aku, kunci sukses untuk bisa berpartisipasi dalam program internasional itu sebenarnya dimulai dari hal yang paling sederhana dulu: be yourself. Kedengarannya klise, tapi justru itu yang paling sering dilupakan. Karena saat kita masuk ke ruang internasional, kita akan ketemu banyak orang dengan background yang sangat beragam, dan di situ kita sering tanpa sadar mencoba “menjadi orang lain” supaya bisa diterima. Padahal justru keunikan diri kita yang sebenarnya itu yang membuat kita punya value tersendiri. Selain itu, penting banget untuk mulai mengenali dan menemukan what makes you different. Bukan dalam arti harus paling hebat, tapi lebih ke apa yang bisa kita bawa sebagai perspektif, pengalaman, atau cara pandang yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Dari situ kita bisa belajar untuk terus represent diri kita dengan cara yang terbaik, tanpa kehilangan jati diri.

Hal lain yang menurut aku nggak kalah penting adalah kemampuan bahasa, terutama speaking skill. Ini bukan hanya soal grammar atau vocabulary yang sempurna, tapi lebih ke keberanian untuk menyampaikan pikiran, untuk engage dalam conversation, dan untuk benar-benar hadir dalam diskusi. Karena di program internasional, bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi jembatan untuk membangun connection dengan orang lain. Dan jujur, itu salah satu kunci untuk bisa “survive” ketika kita berada di lingkungan yang baru dan berbeda.

But overall, aku belajar bahwa partisipasi di program internasional bukan hanya soal kompetisi atau terlihat “keren” di CV dan Portofoilo. Lebih dari itu, ini tentang kesiapan diri untuk belajar terus-menerus, untuk mau merasa nggak nyaman di awal, dan untuk tumbuh dari setiap interaksi kecil yang kita punya. Karena kadang, hal paling berharga dari pengalaman internasional bukan hanya programnya, tapi “new version” dari diri kita yang terbentuk setelahnya.

Seberapa besar peran kemampuan bahasa asing dalam proses seleksi program ini?

Sangat besar. Karena dari awal sampai akhir, English bukan cuma jadi “nilai tambah”, tapi benar-benar jadi main tool untuk bisa menjalani seluruh program dengan baik. Mulai dari sesi online, discussion, sampai nanti ketika sudah in person dan tinggal bersama host-family, semuanya sangat bergantung pada kemampuan komunikasi. Bahkan ketika aku mendapat kesempatan work placement di Melbourne, kemampuan bahasa juga jadi hal yang penting banget untuk bisa memahami job scope, berdiskusi dengan kolega, dan menangkap insight secara lebih utuh dari setiap pengalaman yang ada.

Menurut aku, English proficiency yang baik dan fungsional itu sudah jadi basic requirement bagi seorang delegasi. Bukan hanya untuk “bisa speaking”, tapi untuk benar-benar bisa connect dengan orang lain, memahami context, dan menangkap meaning di balik setiap conversation. Karena kalau bahasa terbatas, yang sering hilang bukan cuma kata, tapi juga kedalaman dari pengalaman itu sendiri. Dan dari pengalaman aku sendiri, aku jadi makin sadar kalau fluency itu bukan cuma soal grammar atau perfect speaking, tapi lebih ke willingness to try, berani salah, dan tetap mau engage dalam conversation. Karena di program seperti ini, yang paling penting bukan hanya apa yang kita sampaikan, tapi seberapa utuh kita bisa be present dan menyerap setiap pengalaman yang ada selama program.

Apa tips utama untuk mahasiswa Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan internasional, Kak?

Jawabannya sederhana tapi sangat amat penting, yaitu always find your “why”. Sebelum apply in any international events, coba tanya ke diri sendiri, “Why this matters for me?” atau “Kenapa aku ingin ada di ruang ini?” Karena menurut aku, semua perjalanan internasional itu bukan dimulai dari seberapa bagus CV kita, tapi dari seberapa jelas kita memahami alasan kita sendiri. Nah, ketika kita sudah tahu our why, kita jadi lebih grounded, lebih percaya diri, dan lebih punya direction. Kita nggak gampang goyah hanya karena misalnya, melihat orang lain terlihat lebih “siap” atau lebih “hebat”. Justru kita jadi bisa lebih fokus untuk show up as ourselves, dengan cerita, pengalaman, dan perspective yang kita punya masing-masing. Dan sebenarnya dari situ juga aku belajar bahwa confidence itu bukan sesuatu yang tiba-tiba datang, tapi tumbuh dari clarity. Semakin jelas kita tahu kenapa kita ada di situ, semakin natural juga kita bisa present ourselves di setiap program yang kita ikuti. Jadi menurut aku, before anything else, start with your “why”. Karena itu yang akan membawa kita tetap jalan, bahkan ketika prosesnya nggak selalu mudah, dan penuh dengan kerikil kecil serta “ranjau” yang bikin perjalanan terasa berat di tengah jalan.

Itulah rangkuman wawancara Sastra Lingua Indonesia dengan Kak Elsa. Tentu dalam setiap perjalanan meraih pengalaman yang lebih bermakna, ada banyak usaha yang dikerahkan. Di antara usaha seperti yang kak Elsa lakukan, Sastra Lingua Indonesia menjadi tempat untuk mendampingi para generasi muda Indonesia yang memiliki visi ke depan untuk mengikuti rangkaian seleksi pertukaran pelajar ke luar negeri. Terkadang, kita tidak punya waktu untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan seleksi program, maka kita wajib untuk mencari pertolongan kepada lembaga yang benar-benar terpercaya. Sastra Lingua Indonesia telah dikenal sebagai lembaga yang menyediakan layanan bahasa asing, mulai dari pelatihan bahasa Inggris, Arab, Korea, dan lainnya, tes TOEFL dan tes IELTS, review esai motivation letter, study objective dan esai lainnya, latihan speaking, hingga penerjemahan dokumen ke berbagai bahasa asing. Kemampuan bahasa asing secara oral atau pun tertulis perlu diasah jauh-jauh hari. Oleh karenanya, penting loh untuk ikut kursusnya baik kursus speaking atau kursus semua skill bahasa Inggris. Butuh infonya? Yuk hubungi Sastra Lingua Indonesia.

Ada juga kelas persiapan TOEFL dan IELTS

Lebih intensif dengan paket 2-6 bulan!

Segera daftar kelas Speaking di SLI!

Jadwal fleksible untuk kelas privat

, , , , ,