Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan dunia. Dalam konteks Indonesia, hubungan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia telah lama menjadi hal penting dalam dunia pendidikan, bisnis, hingga diplomasi. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang pertama kali membuat kamus bahasa Inggris–Indonesia?

Pertanyaan ini membawa kita ke perjalanan panjang sejarah leksikografi Indonesia, bidang ilmu yang mempelajari penyusunan kamus. Salah satu nama yang tidak bisa dilewatkan dalam sejarah ini adalah John M. Echols dan Hassan Shadily, dua sosok yang berjasa besar dalam memperkenalkan The English–Indonesian Dictionary atau Kamus Inggris–Indonesia yang hingga kini masih menjadi rujukan utama bagi banyak pelajar dan profesional di Indonesia.

Awal Mula Kolaborasi: John M. Echols dan Hassan Shadily

Kamus Echols–Shadily, begitu masyarakat menyebutnya, pertama kali diterbitkan pada tahun 1961 oleh Yayasan Kanisius. Kamus ini menjadi monumental karena merupakan kamus dwibahasa Inggris–Indonesia pertama yang disusun secara sistematis dan akademis.

John M. Echols adalah seorang linguis asal Amerika Serikat yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap bahasa dan budaya Indonesia. Ia merupakan dosen di Cornell University, sebuah universitas ternama di AS yang memiliki program studi Asia Tenggara yang sangat kuat. Echols banyak meneliti tentang bahasa Indonesia, sastra Indonesia modern, dan karya-karya sastra klasik Nusantara.

Sementara itu, Hassan Shadily adalah seorang sarjana asal Indonesia, lulusan Universitas Indonesia, yang juga dikenal sebagai diplomat dan cendekiawan. Ia dikenal karena kiprahnya dalam dunia pendidikan dan penerjemahan, serta perannya dalam mengembangkan studi bahasa di Indonesia. Kolaborasi antara Echols dan Shadily lahir dari keinginan yang sama: menghadirkan jembatan linguistik antara dua bahasa besar, bahasa Inggris sebagai bahasa global dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Kamus yang Lebih dari Sekadar Terjemahan

Yang membuat kamus Echols–Shadily berbeda dari kamus lain pada masanya bukan hanya karena cakupannya yang luas, tetapi juga ketepatan dan kejelasan makna. Setiap entri dalam kamus ini disusun dengan cermat, tidak sekadar menerjemahkan kata per kata, tetapi juga mempertimbangkan konteks penggunaannya dalam kalimat.

Misalnya, kata “run” dalam bahasa Inggris bisa berarti “berlari,” “mengelola,” “menjalankan,” atau bahkan “mengalir,” tergantung konteksnya. Echols dan Shadily berusaha memastikan setiap terjemahan memiliki padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Dengan pendekatan ini, kamus mereka bukan sekadar alat penerjemahan, tetapi juga alat pembelajaran bahasa yang efektif.

Selain itu, kamus ini juga mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan dua dunia: dunia akademik yang menuntut ketelitian ilmiah, dan dunia praktis yang membutuhkan kemudahan pemahaman. Tak heran jika kamus ini digunakan secara luas di sekolah, universitas, hingga lembaga pemerintahan.

Karya yang Melewati Zaman

Setelah pertama kali terbit pada tahun 1961, kamus Echols–Shadily terus mengalami pembaruan. Versi-versi revisinya diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama dan tetap menjadi standar emas dalam kamus dwibahasa Indonesia.

Selain Kamus Inggris–Indonesia, mereka juga menerbitkan versi sebaliknya, yaitu Kamus Indonesia–Inggris. Kedua karya ini saling melengkapi dan menjadi pasangan referensi utama bagi siapa pun yang ingin mempelajari atau bekerja menggunakan kedua bahasa tersebut.

Hingga kini, meskipun sudah banyak kamus digital dan aplikasi penerjemah daring seperti Google Translate, karya Echols–Shadily tetap digunakan oleh kalangan akademik karena keakuratan konteks dan kejelasan makna yang sulit ditandingi mesin penerjemah otomatis.

Lebih dari Sekadar Kamus: Simbol Kolaborasi Antarbangsa

Yang menarik dari sejarah kamus ini bukan hanya isi atau struktur bahasanya, tetapi juga semangat kolaborasi lintas budaya di baliknya. Echols, seorang warga negara Amerika, dan Shadily, seorang intelektual Indonesia, menunjukkan bahwa bahasa adalah ruang pertemuan yang universal. Karya mereka menjadi simbol dari pentingnya pertukaran ilmu dan budaya antarbangsa, sebuah hal yang masih relevan hingga hari ini.

Dalam konteks modern, kamus Echols–Shadily juga menginspirasi munculnya banyak kamus dan alat penerjemahan lain yang membantu masyarakat Indonesia berinteraksi dengan dunia global. Dari dunia akademik hingga dunia bisnis internasional, kemampuan memahami bahasa lain kini menjadi kunci utama kesuksesan komunikasi lintas negara.

Bahasa, Penerjemahan, dan Peran di Era Global

Di era digital saat ini, kebutuhan akan penerjemahan profesional semakin meningkat. Dunia akademik membutuhkan penerjemahan jurnal dan artikel ilmiah, perusahaan memerlukan terjemahan dokumen legal dan bisnis, dan individu membutuhkan penerjemahan ijazah atau surat resmi untuk keperluan studi dan kerja ke luar negeri.

Kamus Echols–Shadily telah membuka jalan bagi perkembangan dunia penerjemahan profesional di Indonesia. Namun, di balik setiap kamus dan alat bantu digital, tetap dibutuhkan sentuhan manusia. Penerjemah yang memahami konteks, budaya, dan makna di balik kata.

Butuh Terjemahan yang Akurat dan Profesional?

Kalimat yang salah bisa mengubah arti. Pastikan dokumen pentingmu diterjemahkan oleh ahli bahasa profesional!
Sastra Lingua Indonesia menyediakan layanan Penerjemahan Reguler dan Penerjemahan Tersumpah untuk berbagai dokumen seperti dokumen akademik, bisnis, maupun legal lainnya dengan hasil cepat, akurat, dan sesuai kebutuhanmu. Kami melatih penerjemah manusia kami untuk menghasilkan penerjemahan berkualitas!

Hubungi HOTLINE SLI https://wa.me/6281217940525 atau melalui email: admin@sastralingua.co.id

Trust Your Words in Us